Gambaran Hidup Michael Schumacher
| Home | Nomor Satu | Tifosi Monza | Bolakaki | Fiat 500 | Foto Jody Sheckter | Sepotong Keju Swiss | Celengan Piggy | Tongkat Kruk | Satu Set Bidak Catur | Kecelakaan Spa '96 | Sampanye | Spaghetti | Jean Todt, Direktur Sport Ferarri | Flavio Briatore, mantan bosnya di Benetton | Helm Ayrton Senna | Daun Semanggi Berhelai Empat | Contact Me
Bolakaki

Nomor Satu.jpg

Sepakbola! Ini salah satu favorit saya. Tapi saya lebih nervous kalau disuruh main, dibanding balapan di F1. Kayaknya, aneh ya, tapi saya tidak punya skill sebanding untuk main bola. Saat main bola, penglihatan saya terbatas, padahal Anda harus lebih awas.

Di tiap olahraga Anda mesti memperhatikan sekeliling, sembari memikirkan strategi. Nah, saya tak punya kemampuan seperti itu dalam sepakbola. Saat bola datang, perhatian saya sepenuhnya ke bola, dan tak melihat pemain lain dekat saya. Itulah sulitnya!.

Ia tersenyum, penuh semangat, bicara sembari menggerakan tangannya. Rasanya kami telah menemukan titik lemah-nya. Meski kakinya patah pada tahun 1999, ia tetap melayani ajakan main bola. Saya cinta sepakbola, ujarnya. Bagus untuk melatih fisik. Sifat rendah hatinya mencegahnya membeberkan bahwa uang yang ia peroleh dari pertandingan amal sepakbola disumbangkan untuk UNESCO, salah satu badan PBB yang mengurus pendidikan, pengetahuan dan budaya, dimana ia menjadi duta di sana.